Senin, 02 Agustus 2010

air dan minyak tidak bisa menyatu

AiR &
Minyak
ga’ akan pernah bersatu

Sudut Pandang Air

Aku adalah air. Aku suka air. Karena air bagiku sangat menyejukkan. Hanya dengan melihat saja, hati serasa tenteram. Dan hidupku selalu nyaman, aku ga’ pernah sekalipun terusik dengan dunia lain. Hidupku terasa bahagia. Hingga suatu hari, ada yang berusaha masuk ke dalam ketenangan hidupku.

Dia adalah seorang cewek. Dia seperti minyak bagiku. Dia selalu kelihatan ceria, lincah dan dimanapun dia berada dia selalu tersenyum. Dia serasa mengganggu kehidupanku. Minyak selalu mencoba untuk menempel padaku dan aku ga’ pernah sekalipun menggubris dia. Aku selalu mengacuhkan dia. Tapi, aku merasa dia selalu berusaha tampak akrab denganku.

Sepertinya, dia menaruh hati padaku. Tapi aku masih belum mau diganggu, aku masih ingin merasakan kehidupanku yang nyaman. Kadang aku merasa kasihan dengan minyak, dia tetap berusaha keras untuk mendekatiku. Walopun minyak selalu kelihatan cuek, tapi dia masih berusaha untuk berkomunikasi denganku.

Bukannya aku sombong, ga’ mau berteman dengannya. Tapi aku malu untuk memulai pembicaraan dengannya. Aku malu dengan dunia yang lain bahwa seorang air mau berteman dengan minyak?. Aku selalu menyimpan perasaan itu. Dan aku merasa sepertinya minyak mengetahuinya, karena akhir-akhir ini aku merasakan gosip-gosip dari dunia yang lain tentang aku dan minyak. Bahkan ga’ sedikit menanyakan apakah aku mencoba untuk berubah, melenceng dari kehidupanku yang semula. Awalnya aku bingung, kenapa mereka bertanya tentang itu. Akhirnya, aku tahu bahwa minyak telah melakukan sesuatu. Aku akui, minyak selalu bicara jujur, terbuka dan periang. Aku ga’ pernah melihatnya bersedih.

Sejak saat itu, aku mencoba untuk menjauhi minyak. Tapi dari jauh, aku selalu mengamati minyak. Aku merasa, minyak orangnya misterius. Dia berbeda dengan teman-temannya yang lain. Dan dari pengamatanku, sekarang sepertinya minyak menerima keputusan dariku. Walopun kita ga’ bicara secara langsung, tapi sepertinya dia memahami bahwa aku menjauhinya. Aku berpikir, mungkinkah perasaannya itu sudah hilang?.
@@@@@@@

Suatu hari, aku mencoba mengajaknya nonton konser group band terkenal. Karena menurut temannya, dia sangat ingin nonton konser itu. Kulihat gelagatnya, wajahnya memerah. Kusangka dia mau ikut, tapi ternyata jawabannya membuatku sedih. Dia ga’ mau ikut bersamaku. Aku sedih mendengarnya. HAH!, kenapa aku bersedih? dan kenapa juga aku merasa sepi padahal disini tempatnya rame? Aku celingak-celinguk di tempat konser seperti mencari seseorang, tapi tak kutemukan.

Esoknya, seperti biasa. Aku menyapanya lewat senyum. Aku bertanya tentang konser kemarin. Katanya, dia datang tapi ga’ lama nontonnya. Aku tahu dia bohong, tapi kenapa yach dia melakukan kebohongan itu?. Aku tak tahu. Tapi aku merasa dia jauh dariku. Dia terasa beda dengan dia yang dulu. Walopun minyak tetap ceria kelihatannya, tapi aku yakin dia berubah. Dia ga’ pernah lagi mencoba untuk memulai pembicaraan denganku. Dia juga ga’ mau lagi melihat mataku, dia selalu menunduk baik saat ngomong maupun berhadapan denganku. Dia udah ga’ mau lagi melihat wajahku. Saat kutanya, minyak selalu menjawab dengan singkat dan cuek. Aku ga’ percaya, bahwa kenyataannya aku penasaran dengan kelakuan minyak.

Namun, demi kehidupanku yang tenang, aku akan mengikuti permainannya. Dan kita serasa lebih jauh lagi. Sebenarnya aku ingin sekali berbicara dengan dia, tapi aku ga’ tahu harus mulai darimana. Setiap pagi aku selalu menyapanya dengan senyum dan hanya itu yang kulakukan padanya. Aku benar-benar ga’ percaya, bahwa kenyataan aku sangat merindukan minyak. Tapi dia sekarang lebih jauh lagi.
@@@@@@@

Suatu malam, aku mendapat sms dari nomor baru tertulis bahwa nomor itu pengirimnya adalah minyak. Waw, aku bahagia. Ternyata, dia mencaritahu nomor HP-ku lewat teman-temanku. Aku ga’ marah kok, aku malah senang. Tapi, demi kehidupanku yang tenang, aku mengkomplain temanku itu.

Sejak saat itu, kita sering sms. Walopun saat bertemu, minyak tetap dengan kelakuannya yang seperti menjauhiku. Tapi aku merasa, hatiku sangat dekat dengan minyak.

Ternyata, kenyataan ga’ selalu berjalan sesuai dengan harapan. Aku kecewa dengan minyak, dia sering cerita ke temannya tentang aku, tentang hubungan kita. Padahal aku masih ingin hidup tenteram.
@@@@@@@

Di akhir bulan, aku dikejutkan dengan berita dari minyak, bahwa dia akan pergi dari kehidupanku. Sebenarnya saat itu, aku ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa aku sayang sama dia. Tapi, kuurungkan niatku, demi kehidupanku yang tenteram.

Aku hanya menatapnya kosong, saat dia pergi dari kehidupanku. Beberapa hari setelah dia pergi, aku merasa hidupku sepi, hampa, padahal aku telah kembali ke kehidupanku yang semula. Tanpa sadar, kadang aku memencet nomo HP-nya. Aku merasa kehilangan minyak, yang seharusnya aku ga’ merasa seperti ini. Aku harus memutuskan sesuatu!.

Yach, aku telah memutuskan. Aku harus melupakannya!. Tak disangka, ada sms masuk dari minyak. Dia bertanya tentang kabarku, aku akan mengatakan aku baik……. Tidak, aku harus melupakannya. Akhirnya, kubalas dengan :

“Forget me and call your boyfriend
not me…….
Okay! ( I am not your friend again )”

Sebenarnya, aku ga’ tega mengatakan itu, tapi aku ga’ mau lagi mengganggu kehidupannya. Dan aku telah memutuskan bahwa aku harus kembali lagi ke kehidupanku yang semula, tenteram, nyaman dan damai. Aku ga’ mau punya perasaan yang aneh-aneh sama minyak yang hanya seorang cewek SMA. Walopun sebenarnya aku tahu, bahwa minyak punya perasaan yang lebih terhadapku. Tit…..tit…..satu pesan kuterima dan ternyata itu dari minyak. Kelihatan banget dia sedih. Dia tanya alasanku, kenapa hal itu mesti terjadi?

“KEEP YOUR MOUTH PLEASE…..
I don’t like when you said something about me,
bye……”

Dengan sangat berat hati, aku harus berbohong. Agar minyak mau pergi dari kehidupanku. Lagian pasti perasaan minyak belum mekar, dan hal itu pasti bisa dihilangkan sebelum menjadi besar. Minyak, maafkan aku. Aku tahu kamu punya perasaan padaku. Tapi, itu pasti hanya perasaan sesaat. Yach….. pasti hanya perasaan sesaat.

Dan….Air dan minyak ga’ akan pernah bisa bersatu. Bukannya aku membencimu, tapi aku takut aku ga’ bisa menjalani kehidupanku yang tenteram.

Saat ini satu tahun telah berlalu. Aku sadar, ternyata aku belum dewasa. Aku sangat merindukannya!. Apakah benar Air dan Minyak ga’ akan bisa bersatu? Apa karena minyak terlalu licin untuk dimengerti atau karena air tidak mau menerima minyak apa adanya?!.
@@@@@@@

Sudut Pandang Minyak

Aku adalah seorang cewek SMA. Aku pernah mengalami kerja paruh waktu di suatu Supermarket. Disitu aku mengenal seorang cowok yang sifat dan tabiatnya mirip dengan air, tenang dan menyejukkan.

Aku sering mengamati air, wajahnya, matanya, bahkan senyumnya. Dia juga pintar, lebih pintar dari aku. Aku sangat mengaguminya. Dan aku harus bisa bicara dengan dia. Dengan bebagai cara, aku terus mencoba untuk mengajak air ngobrol denganku. Walopun air selalu mengacuhkanku, tapi aku tahu bahwa dia selalu mendengarkan setiap kata-kataku.

Air sangat indah, berada didekatnya terasa nyaman. Aku harus mencoba caritahu tentang dia. Aku harus mengakrabkan diri dengan teman-temannya. Tapi ternyata aku salah. Seharusnya, aku ga’ boleh akrab dengan temannya, seharusnya aku ga’ boleh cerita kesana-kesini kalo’ aku sangat mengagumi air. Semua udah terlambat, kini air telah menjauhiku. Aku sedih karena kini dia sering ngobrol dengan temanku.
@@@@@@@

Suatu hari, aku dikejutkan dengan kelakuannya. Saat aku datang, dia menyapaku dengan senyumnya. Senyum itu sangat indah, sangat damai. Dan aku yakin, perasaanku terhadap air udah lebih dari perasaan kagum.

Tapi yang telah membuatku lebih kaget lagi, ternyata air mengajakku untuk nonton koser group band terkenal yang sangat ingin kutonton. Dalam hati, aku sangat bahagia sekali. Aku ga’ pernah menyangka sekalipun bahwa air akan mengajakku nonton konser. Aku benar-benar bahagia, tapi….. aku harus menjaga perasaannya.

“Maaf, aku ga’ bisa ikut kamu karena aku udah janji pergi sama teman-temanku.” HAH! kenapa aku mengatakan hal itu, kenapa aku menolaknya. Padahal aku……Ini adalah kesalahanku yang kedua. Aku telah mengecewakan dia, karena tampak jelas dia kecewa, walaupun dia berusaha menutupinya dengan senyuman. Tapi aku tahu, dia punya perasaan sedikit padaku.

Esoknya, dia menyapaku lagi lewat senyuman. Dia bertanya tentang konser kemarin. Aku bingung harus menjawab apa, akhirnya kubilang aja aku nontonnya cuma sebentar. Terpaksa aku berbohong, karena aku ga’ mau dia tahu kalo’ sebenarnya aku ga’ nonton konser itu, tapi aku ada dirumah, suntuk, murung dan menyesali perbuatanku yang telah menolak ajakan air untuk nonton konser.

Air, maaf bukannya aku ingin ngecewain kamu. Tapi aku punya beribu alasan untuk menolaknya, diantaranya :
1. Aku kaget karena sebelum ini kamu telah menjauhiku.
2. Aku takut, teman-temanmu mengetahuinya dan membuat gosip tentang kita. Aku takut kamu malu kalo’ kamu jalan sama aku.
3. Aku ga’ yakin apakah ajakanmu ini benar atau cuma bercanda.

Dan karena alasan itulah, kini aku berusaha untuk menjauhinya. Aku ga’ ingin mengganggunya lagi. Aku tahu, sebelum aku datang, kehidupan air sangat tenteram dan damai. Dan aku ga’ mau jadi pengganggu dalam kehidupan air.

Selain itu, aku juga punya alasan lain untuk menjauhi air. Suatu kali, aku pernah memergokinya memandang cewek lain. Dari kabar-kabari aku tahu kalo’ cewek itu juga punya perasaan pada air. Tapi kata temannya, dia ga’ pernah menanggapi cewek itu. Ga’ tahu kenapa, aku ga’ percaya sama gosip itu, karena bagiku mata ga’ pernah bohong. Tatapan air ke cewek itu kelihatan banget kalo’ dia sangat mengagumi cewek itu, tatapan matanya berbinar-binar. Aku yakin, seorang air telah jatuh hati ke cewek itu.

Oleh karena itu, aku telah membulatkan tekad. Aku harus menjauhi air!. Aku yakin keputusanku ini benar dan aku akan berusaha untuk tidak membuat kesalahan yang ketiga kalinya.

Sebenarnya, aku ga’ mau menjauhinya. Setiap pagi, dia selalu menyapaku lewat senyuman. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Dan perasaanku padanya udah lebih dari rasa kagum. Perasaan ini lebih ke perasaan sayang dan aku selalu ingin dekat dengan air. Kadang tanpa sadar, aku ingin membuka mulut di hadapannya dan bercerita panjang lebar seperti biasanya.

Tapi, aku ga’ bisa. Aku sudah bertekad!.
@@@@@@@

Akhir-akhir ini aku sering memergoki air melihatku, lebih tepatnya seperti mengamatiku. Di satu sisi, aku bahagia dan aku merasa yakin kalo’ air pasti punya perasaan padaku. Walopun sedikit, tapi itu udah cukup untuk membuat perasaan itu mekar. Tapi disisi lain, aku merasa malu dan risih.

Aku benar-benar ga’ bisa mengendalikan diriku. Karena saat ini aku ingin sekali sms dia. Aku udah mendapatkan nomor HP-nya dari salah seorang temannya. Aku benar-benar ingin berada di dekatnya. Dan tanpa diduga, aku telah mengirim sms ke dia. Apakah air marah padaku karena……. Tit….. tit….. tit….. HP-ku bunyi, ternyata dari air dan dia ga’ marah. Waw, aku seneng banget. Aku merasa saat ini hatiku dekat dengan air.

Tapi, ternyata semua itu hanya terjadi sesaat. Ga’ tahu kenapa, dia mulai menjauhiku lagi. Sepertinya dia jaga jarak denganku dan ini sepertinya serius. Ada apa yach?.
@@@@@@@

Waktuku hanya satu bulan kerja paruh waktu di Supermarket itu. Akhirnya, hal yang kutakuti tiba. Aku harus berpisah dengan air. Aku bingung, bagaimana caranya agar air tahu bahwa aku harus pergi, karena kita sepertinya jauuuh…. banget.

Waktu tinggal sedikit. Aku harus bisa mengatakan bahwa aku harus pergi. Dan saat air mengetahuinya, terlihat jelas dia sangat kecewa. Aku tahu, sebenarnya dia sangat ingin memelukku. Air maafkan aku!.

Beberapa lama setelah itu, hidupku terasa sepi. Aku sangat merindukan air, aku ingin berada di dekatnya. Aku ingin dia tahu, bahwa aku sangat menyayanginya. Hanya ada satu cara agar dia tahu, yaitu lewat sms. Tapi, gimana memulainya. Udah lama kita ga’ saling sms-an. Ehmm….kutanya kabarnya dulu deh.

Memang, kenyataan ga’ selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ternyata, air membalas sms-ku dengan kata-kata yang membuatku sedih dan ingin nangis. Aku terasa seperti ditolak mentah-mentah sebelum memberitahu dia akan perasaanku.

Aku benar-benar ga’ percaya dengan semua ini, dengan kata-katanya dan dengan alasannya itu. Aku marah, sedih, muak dan aku ingin muntah. Dia….. Aku…..

Aku seperti kehilangan kata-kata karenanya. Aku yakin, semua ini pasti mimpi. Aku benar-benar ga’ ngerti apa salahku?. “KEEP YOUR MOUTH”, apa aku pernah bicara kasar padanya, atau mungkin dia marah gara-gara aku bercerita pada teman-temankutentang dia. Aku benar-benar bingung dan ga’ ngerti??!

Saat ini 1 tahun telah berlalu tapi aku belum bisa melupakan wajahnya, matanya, senyumnya. Apalagi senyum itu selalu menyapaku setiap pagi. Namun saat ini, sepertinya aku tahu gimana jalan pikirannya waktu itu. Air walopun kelihatan tenang, tapi ternyata dia belum dewasa.

Aku merasa, aku seperti minyak yang selalu mengganggu kehidupan air. Pepatah bilang, air dan minyak ga’ bisa bersatu. Apakah benar demikian? Apa benar air dan minyak ga’ akan bisa bersatu? Kenapa? Apa karena minyak terlalu licin untuk dimengerti atau karena air tidak mau menerima minyak apa adanya???
@@@@@ THE END @@@@@

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar